Minggu, 20 April 2008

BETAPA SULITNYA MEMIMPIN DIRI (1)

Pengalaman yang cukup menarik terjadi pada tahun 1990 saat mengikuti pendidikan SUSKAPIN angkatan ke XIX di Pusdikart Cimahi. Sebelum berangkat pendidikan ada sebuah tekad ingin belajar memimpin diri sendiri, karena saya punya pengalaman betapa sulitnya mendisiplinkan diri. Saya ikut pendidikan resimen mahasiswa mulai dari Pradiklatsar sampai Latgar menwa di Puslatpur (Pusat Latihan Tempur) AD Batu Raja SumSel, masih saja belum bisa mendisiplinkan diri terutama dalam hal belajar dan lain-lain.
Pengalaman yang sangat berarti adalah saat menahan amarah karena saat itu saya ditunjuk sebagai Komandan Peleton yang akan memimpin do'a makan pagi. Komandan peleton ditunjuk bergiliran dengan semua siswa yang ada (saat itu peserta kurang lebih 100 orang dari seluruh Indonesia).
Sebelum menjadi komandan peleton , saya melihat ada teman yang biasa ambil telur di meja makan dan dia duduk di meja makan yang lain. Sehingga selalu saja ada teman yang kurang lauk pauknya. Saya melihat ini, namun belum ada keberanian menegurnya, karena belum mengenal peserta pendidikan dengan baik (peserta dari Sabang sampai Merauke). Kejadian ini beberapa kali terulang, akan tetapi belum ada yang protes atau karena tidak ada yang melaporkan. Dan teman-teman yang kekurangan lauk pauk merasa cukup dengan lauk pauk yang ada. Saya berpikir bagaimana mencoba menyelesaikan masalah ini, sampai akhirnya ditunjuk sebagai komandan peleton.
Saat tengah malam kupersiapkan metode dan cara jika besuk pagi saya yang akan memimpin acara makan paginya. Sambil memperhatikan situasi dan keadaan saat memasuki ruang makan pada pagi harinya, kuperhatikan teman yang biasa mengambil lauk-pauk.
Ketika semua sudah duduk ditempatnya, maka kumulailah rencana saya. Kusiapkan semua dengan suara yang lantang.”Duduk Siap Grak”. Mereka semua dengan sigap mengikuti perintah sesuai kebiasaannya. Kemudian kulanjutkan kata-kataku.: “Sebelum kita mulai makan pagi dengan berdoa, tolong dilihat masing-masing meja apakah sudah sesuai jumlah orang dan lauk-pauknya.” (hal ini belum pernah dilakukan sebelumnya). Ada salah seorang dengan mengangkat tangan sambil berucap: “Kurang telur”. Maka kusampaikan kepada semua teman yang merasa mengambil telur dan tidak duduk ditempatnya agar mengembalikan telurnya. Kutunggu sampai beberapa saat, dan tidak seorangpun yang mau mengakuinya. Akhirnya dengan suara yang agak keras kusampaikan kalau tidak ada yang mengakui lebih baik tidak ada yang makan pagi hingga ada yang mengembalikan telurnya. Sampai akhirnya mata saya tertuju kepada teman yang biasa mengambil telur. Dan kukatakan : “Jika tidak ada yang mengaku, maka saya akan menunjuk orang yang biasa mengambil telur”. Mulailah emosi yang besar mengalir dalam dadaku sehingga membuat kepalaku seolah-olah bertambah besar. Teman yang kucurigai biasa mengambil telur kulihat menurunkan tangan (sepertinya mau membuang telur dan menghilangkan jejak).
Emosi yang bertambah besar dan membuat darah seolah-olah mendidih, terasa kepala menjadi bertambah besar sekali seolah-olah mau pecah. Kemudian munculah suara dalam diri` : “Tidak boleh kamu memaksakan kehendak walaupun itu tujuan baik, dan kamu bisa malu jika orang yang kamu tuduh ternyata dia bisa menghilangkan jejak. Tahan amarahmu!”.
Saat itu pula kututup mulut rapat-rapat untuk menahan kemarahan yang akan keluar melalui ucapan. Saya gambarkan seperti sebuah air yang mengalir deras ditahan dengan seketika, maka meledaklah tangis dalam dada. Seiring itu pula air mata mengalir di pipi dengan derasnya. Kututup mukaku dan bergetar tangan, berdegup kencang dadaku. Tak kuasa saya membendung tangisku dalam dada (tanpa suara karena kututup rapat-rapat dengan bentuk mulut mengerucut). Akhirnya doa makan dipimpin wakil Komandan Peleton. Perasaan lapar sepertinya langsung hilang, perutku sepertinya menjadi kenyang selera makanpun langsung hilang. Wakil komandan peleton sampai bilang, “Sudah cukup, cukup. Sekarang makanlah dulu.”. Tak kuhiraukan ucapannya, karena amarah yang berubah tangisan masih menderu-deru di dalam dada semakin lama semakin kencang tangisannya (masih dalam dada/ tak bersuara karena mulut yang kututup rapat-rapat).
Seiring amarah yang tertahan dan berubah menjadi tangisan dalam dada, dimana tangisan itu semakin kencang dan semakin kencang, yang akhirnya berubah menjadi tertawa terbahak bahak sangat kerasnya (masih dalam dada). Jika kondisi ini sampai ternampakkan keluar, pasti saya dianggap orang gila atau sedang mengalami kerasukan setan. Mulailah terpikir dalam benakku ada apa ini? Mengapa begini? Siapa ini?
Kejadian ini berlangsung beberapa saat hingga akhirnya suara tertawa mulai surut perlahan-lahan sampai tidak terdengar suara tertawa lagi dan berubah menjadi tersenyum (ketika itu terasa bibirku bergerak mengikuti senyum di dalam dada). Terjawab akhirnya dengan sebuah kata OH INILAH HIDUP, dan teringatlah saya dengan sebuah lagu dari rocker terkenal Ahmad Albar (Dunia Panggung Sandiwara). Sejak itu makin asyik saja saya dengan suara-suara dalam diri ini. Hanya saja saya belum tahu rahasianya.
Selama pendidikan di Pusdikart ada seorang teman (sebelah tempat tidurku) Baho Alang namanya dari SULSEL yang senantiasa melihat perubahan-perubahan yang terjadi denganku. Saat sedang latihan di luar kelas dan duduk istirahat di lapangan terbuka berdua saja, temanku ini berkata:: “Min, kenalilah dirimu!, dari mana asalmu dan mau kemanakah tujuan hidupmu? INGATLAH ALLAH SELALU” Pertanyaan dan pernyataan ini cukup membuat perenungan dalam diriku. Dalam beberapa malam kucoba memahami makna yang dikatakannya, sampai ada sebuah peristiwa yang akhirnya menyadarkan diri. Hingga pendidikan selesai saya berusaha memaknai perjalanan hidupku dengan mencari jawaban dari buku-buku agama, atau mencoba bertanya kepada orang-orang yang saya anggap tahu termasuk beberapa kyai. Tapi jawaban belum memuaskan hatiku. (kuliahku sempat terbengkalai dengan kondisi saat itu).
Dari waktu ke waktu kucoba untuk selalu ingat Allah dengan bacaan-bacaan yang kuikuti sesuai alunan keluar dan masuknya nafasku, untuk menjaga jasadku melakukan maksiat kucoba dengan berwudhu. Namun masih kurasakan betapa sulitnya untuk mengendalikan diri ini. Di dalam kampus/kelas (masih ada sisa mata kuliah yang belum selesai) kucoba tetap menjaga bacaan-bacaan dalam hati, jika saya buang hajat kecil (buang air kecil atau buang angin) saya wudhu kembali. Sampai akhirnya saya merasa dekat dengan Allah dan nikmat dengan bacaan-bacaan yang biasa kubaca.
Namun anehnya, dalam kondisi seperti ini saat saya mengerjakan shalat, justru pikiran dan perasaanku melayang-layang seperti menjauh dan lari dariku. Timbulah pertanyaan dalam diriku. Bagaimana ini ? Shalatku terasa tambah tidak khusuk. Sekolahku bisa gagal (karena tidak mendengarkan dosen). Bagaimana mendekatkan diri kepada Allah yang benar? Ada yang salah dalam pendekatanku kepada Allah SWT. Bagaimana mendekati Allah dengan benar. Ketakutan menghadapi masa depan, ketakutan kalau-kalau tidak lulus kuliah, rasa was-was mulai muncul. Akhirnya kuputuskan untuk mencari seorang pembimbing yang bisa menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi dalam diriku.
Dalam masa pencarian-pencarian tersebut, kucoba menghilangkan rasa was-was atau ketakutan-ketakutan akan masa depan dengan mencoba memahami keberadaan diri yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT. Saya telah mendapatkan perangkat tubuh yang lengkap, mata, telinga, kaki, dan semua yang diberikan oleh Allah ini belum kufungsikan/kupakai dengan maksimal. Otak yang diberikan oleh Allah belum kupakai secara Optimal. Kubawa diri ini berjalan kaki ditengah hari menuju pasar kota (jarak dengan tempat kost kurang lebih 8 km. Sampai di pasar besar kota Malang, kuperhatikan seorang pekerja (kuli angkat) sedang mengangkat karung besar dengan tersenyum lepas. Mengapa saya tidak bisa tersenyum lepas seperti orang ini, begitu suara dalam diri ini muncul. Mereka dengan senang hati melakukan aktifitas seolah-olah tanpa ada beban. Mengapa saya harus takut menghadapi masa depan?. Aku tidak boleh takut atau malu, seperti ketika aku sedang berjalan kaki dan bertemu dengan teman di kampus saat tadi berjalan menuju pasar besar. Mereka pasti menganggap aneh berjalan di siang hari sendirian. Seperti pertanyaan yang pernah dilontarkan kepadaku oleh salah seorang teman. “Ada perubahan-perubahan apa dalam dirimu MIN, kelihatannya kamu kok aneh”, demikian pertanyaannya. “Apanya yang aneh?” tanyaku kemudian.
Setelah beberapa lama kemudian, ketika teman yang bertanyaku lulus kuliah dan dia akan meninggalkan kota Malang, saya mencoba menjelaskan dengan detail kepadanya. “Saya ingin mengenal siapa sebenarnya diriku ini”, demikian penjelasanku padanya. “Lho kamu udah lupa dengan dirimu sendiri?”,tanya temanku kemudian. “Ya ndak, Namaku ya masih ingat, tapi aku mau kenal siapa dibalik diriku ini, seperti ada beberapa kelompok yang ingin menguasaiku. Salah satu mengajak berbuat sesuatu, yang lain mengajak berlawanan, yang lain lagi mengajak berbeda lagi”, demikian penjelasanku. “Wah saya ndak tahu kalau seperti itu”, jawabnya. Saya sudah menduga bahwa cukup sulit untuk menjelaskan apa-apa yang sedang kualami ini kepada seseorang yang akan bertanya dengan perubahan-perubahanku.
Setelah beberapa waktu lamanya, alhamdulillah akhirnya kutemukanlah beliau bapak K.H. Achyari, dengan sedikit bercerita beliau memberikan nasihat. Katanya saat pertemuanku pertama kali dengan beliau : “MENDEKAT KEPADA ALLAH HARUS DENGAN ILMU, BERDZIKIR DENGAN WIRID TIDAK SAMA, DZIKIR HARUS PAKAI ILMU. KALAU KAMU MAU CARI ILMU MARI BERSAMA-SAMA DENGAN SAYA MENGHARAP RIDHO ALLAH”.
Pada suatu saat beliau bercerita lagi :
“UNTUK APA KAMU CARI ILMU ? “
“APAKAH MAU CARI KESAKTIAN ? “
“MAU CARI KEKAYAAN ?
“MAU MENIKMATI KEINDAHAN DUNIA (WANITA)? “BUKAN ITU TUJUAN HIDUPMU”.
“KEWAJIBANMU MENCARI MUSTIKA IMAN DALAM DADAMU ! ”
Hingga kuputuskan untuk belajar bersama beliau, sampai akhirnya beliau meninggalkan kami semua. Namun ada ucapan beliau ditengah malam sebelum wafat yang membuat saya senang dan ada harapan serta jaminan bahwa saya (semua teman yang belajar dengan sungguh-sungguh) tidak akan menderita dunia dan akhirat jika tetap berpegang teguh dengan Al Qur'an dan As Sunnah. Dan antara beliau dan santri tidak dapat dipisahkan dunia dan akhirat (tentu bagi santri yang tetap berpegang dengan pelajaran yang pernah diberikan).
Dengan kisahku ini, akhirnya kutulis pelajaran yang pernah diberikan dengan membuat sebuah judul “Brain & Mind Optimalization Program”. Dengan harapan untuk membantu teman-teman yang belum pernah kenal dengan karangan beliau serta teman-teman yang pernah belajar sebagai bahan kajian dan diskusi bersama-sama. Kutulis seringkas-ringkasnya agar bisa dibawa kemana-mana. Dengan metode skema agar membuat alur/diagram berpikir dengan benar sesuai yang pernah diajarkan atau dari kitab-kitab yang dikarang beliau. Kesulitan untuk menyimpulkan apa yang beliau tulis dan tebalnya kitab serta tidak dicetak untuk umum, maka saya beranikan untuk membuat tulisan sesuai dengan Rahmat Allah yang diberikan kepada penulis dengan landasan Kitab Syariatun Syafinah. Hanya kitab dengan judul Syariatun Syafinah yang dapat dicetak dan disebarkan untuk umum, agar dapat mengenal kajian Hikmah yang pernah beliau ajarkan.
Hambamu yang lemah ini, berilah selalu Ilham dan Hikmah agar sisa hidup ini punya nilai dan manfaat buat hamba sekeluarga, lingkungan terdekat, serta bangsa dan negara yang mulai mencari jati diri. Jangan biarkan kami semakin jauh tersesat dalam mengarungi samudra kehidupan. Kembalikan arah hidup ini untuk senantiasa mensyukuri RahmatMu dan mohon ampun atas segala khilaf dan dosa akibat kelalaian dan ketidak mampuan menolak ajakan mengikuti hawa nafsu. Ya Allah, tambahkanlah kemampuan Aqal dalam memimpin hawa nafsu ini. Engkau yang menciptakan hawa nafsu, Engkau pulalah yang dapat menundukkan Hawa Nafsu. Aku tiada mampu, kecuali dengan kekuatan yang Engkau berikan kepada Aqal dan bimbingan dari Hati Iman yang senantiasa menunjukkan jalan hidup yang benar.
Semoga tulisan ini memberikan inspirasi kepada teman-teman yang membaca kisahku ini. Di waktu lain akan kukisahkan pengalaman-pengalamanku sebelum, saat atau sesudah bersama dengan KH. Achyari. Mohon maaf yang sebesar-besarnya seandainya dalam merangkai dan menyusun kata terdapat kekhilafan yang menyinggung perasaan. Semoga Allah SWT. senantiasa memberikan KESADARAN IHSAN kepada kita sehingga setiap ucapan, langkah kaki dan ketetapan hati selalu mengingat akan kebesaranNYA.

1 komentar:

hikmah mengatakan...

Setelah lama tidak mengunjungi blog ini dan ternyata belum ada responspun dari rekan,teman, atau siapapun yg pernah membaca tulisan ini.Maka kutuliskan sebuah harapan yang hanya Allahlah yang dapat mengabulkan harapan ini, karena harapan satu-satunya yg harus diupayakan oleh setiap insan adalah "MENGENALNYA".
Waktu terus berjalan tidak terasa 4 tahun lama telah berlalu setelah ide membuat blog ini diluncurkan teman. Allah benar-benar telah membuktikan apa yang dijanjikan, bahwa siapa yg bersungguh-sungguh untuk mendekati-NYA dan mengenal-NYA, akan disambut dan Allah sendiri yang akan memperkenalkan Dirinya.
Mengoptimalkan otak, pikiran adalah alat, metode awal untuk berusaha mengenal "jati diri".
Karena banyak orang yang telah lama menggunakan otak dan pikiran, diibaratkan seperti pedang yang diasah, dipertajam dan diperkuat, akan tetapi pedang itu akhirnya menikam diri sendiri.
Semoga sedikit tulisan ini, akan menyadarkan orang untuk lebih berhati-hati ketika akan menggunakan otak dan pikirannya. Bagaimana mengendalikan otak dan pikiran, sehingga terbentuk kesadaran yang kuat untuk mengenal yang menciptakan otak dan pikiran itu sendiri.
Otak adalah bentuk fisik yang digunakan sebagai kontrol segala perangkat untuk menggerakkan tubuh (fisik)dan melakukan eksekusi (usaha/kerja). Sedangkan pikiran adalah energinya.
Bagaimana seseorang akan melakukan usaha/kerja dengan baik jika energi yang berada dalam dirinya tidak terkontrol.
Bagaimana mengendalikan energi/pikiran itu?
Selamat membaca buku "Brain & Mind Optimalization Program". Karena didalam buku tersebut dibuat skema dan diagramnya.
Salam Penulis
Sri Amin Wahyudi